Pancasila yang Terasing

Gagasan itu menyelinap tanpa permisi,

bertanya pada sunyi yang kian bising:

Apakah itu softpower? Apakah itu Pancasila?

Dan di mana iman diletakkan dalam bisingnya sidang?

 

Kau sebut softpower itu epistemologi—

sebuah lensa agung cara memandang semesta.

Bagaimana akal, hati, dan intuisi merajut interaksi,

menyimpulkan dunia dalam sebuah visi.

 

Ia adalah kemudi dari sebuah world view,

karakter penentu kemana bangsa berlabuh.

Lalu di mana iman?

Iman adalah keindahan yang mekar di batin,

 

buah ranum dari ilmu, niat, dan amal sholeh yang dijalin.

Ia adalah rupa terdalam dari sang jawara,

yang tunduk dalam rendah hati, namun memancarkan pesona gembira.

Pancasila berdiri di atas lima fondasi,

 

yang kau peras bukan sekadar gotong royong mati.

Bukan sosial per se, tapi gotong royong yang berhulu pada Ilahi.

Sebab manusia spiritual bergerak dalam dua dimensi:

menjadi individu sekaligus makhluk sosial yang mengabdi.

 

Kemanusiaan dan keadilan takkan tegak berdiri,

jika rahim ketuhanan tak memberi makan pada nurani.

Namun kini, iman dalam Pancasila dikerdilkan konstitusi,

hanya sebatas angka kebebasan beragama yang artifisial,

 

atau pasal-pasal adopsi hukum yang formal.

Ia hanya kosmetik, riasan visual,

ritual yang mewarnai upacara kenegaraan secara dangkal.

Lalu iman yang mana yang belum memancar?

 

Iman yang sejatinya adalah softpower—kekuatan dalam!

Ia belum mewujud, belum tampak, bahkan dicurigai dengan kejam,

dianggap musuh yang mengancam persatuan malam.

Iman masih remang-remang,

 

kerap disebut dalam pidato, tapi diasingkan dari laku bernegara.

Padahal dulu, Sukarno menjadikannya panglima.

Iman adalah tauhid sosial, kekuatan raksasa!

Bukan sekadar alat pemersatu yang pasif,

 

tapi cambuk perlawanan meruntuhkan kapitalisme dan imperialisme yang korosif.

Melawan ketidakadilan adalah iman yang menyatu dengan dada Pancasila.

Lalu zaman berganti, makna dijungkirbalikkan.

Suharto datang membawa ketakutan pada Komunisme,

 

mereduksi iman menjadi tameng anti-kiri.

Hingga tibalah musim reformasi yang liberal,

di mana ideologi dianggap penyakit diktator yang komunal.

Pancasila disterilkan, diselaraskan dengan barat,

 

tanpa sadar karpet merah digelar untuk oligarki dan deep state yang merapat.

Di era ini, iman benar-benar diasingkan.

Dipisahkan dari gotong royong dan semangat ketuhanan.

Ia diubah menjadi artefak gagal, benda asing masa lalu,

 

 

musuh modernisme global yang dianggap kaku.

Kini, bangsa dan negara merayakan pesta nihilistik.

Merayakan kebebasan individual tanpa jangkar kosmik.

Nilai Pancasila tenggelam dalam riuh yang sunyi,

 

di mana fitrah dan gender bukan lagi pilihan Tuhan yang suci,

melainkan komoditas di tangan sang nihilisme yang tak bertepi.

Iman kita… kini yatim piatu di tanah airnya sendiri.

Pancasila yang asing