Di tanah para syuhada, di negeri yang hatinya tak pernah padam,
Muharram datang membasuh luka, menabur duka dalam syair.
Perjanjian antara dua kuasa masih tergantung rapuh,
antara dentuman perang dan desir damai yang samar.
Namun rakyat yang hatinya telah ditempa Karbala,
tak perlu menanti isyarat dari singgasana-singgasana.
Mereka merawat luka lama,
menjadikannya nyala.
Di Yazd, Nakhl menjulang bagai mahkota duka,
kayu raksasa yang dihias cermin dan pedang,
diangkat oleh bahu-bahu yang percaya:
“bahwa yang gugur tak pernah mati”,
bahwa peti mati adalah singgasana keabadian.
Alun-alun dikelilingi tiga kali,
seperti hati yang berputar-putar mencari makna.
Di barat, di Lorestan, tanah basah membalut tubuh,
lumpur menjadi bahasa yang lebih fasih dari air mata.
Mereka melumuri diri, bukan untuk kotor,
melainkan untuk mengingat bahwa seseorang pernah berguling di tanah,
berlumur debu, pengkhianatan, dan peluru dari tangan yang pernah bersumpah.
Di Estahban, batu-batu di tangan bernyanyi:
Chok-choko, suara jenazah yang terinjak kuda,
suara tulang-belulang yang menjadi saksi.
Dua batu dibenturkan dalam lingkaran,
menghidupkan kembali detik-detik ketika kuku-kuku kuda
menari di atas dada-dada yang berani.
Di Khorasan Selatan, sekop pertanian terangkat ke langit.
Bukan untuk menggali kubur,
melainkan untuk mengenang suku Bani Asad
yang datang menguburkan para syuhada,
mengembalikan mereka ke rahim bumi yang adil.
Logam beradu, suara dentang memecah sunyi:
“Heydar Ali!”
Di Azerbaijan, barisan panjang bergerak seperti ombak,
tangan di bahu, tongkat di tangan,
“Shakhsey… Vakhsey…”
Shah Husain… Celaka Husain…
Gerakan yang sama, 680 hingga 2026,
dari masa ke masa, dari tubuh ke tubuh,
satu nadi menghubungkan generasi
Di Semnan, empat puluh lilin menyala,
cahaya-cahaya kecil di tengah kegelapan.
Lilin-lilin itu berpindah dari tangan ke tangan,
dicium lembut, sambil doa melayang:
untuk yang sakit, untuk yang telah pergi,
untuk yang menanti keadilan di ujung waktu.
Di Tafresh, panggung-panggung kayu menjadi jembatan,
Ta’zieh menghidupkan kembali adegan demi adegan:
pedang yang terangkat, bayi yang kehausan,
senyum di tengah pedih, dan keindahan yang lahir dari patah hati.
Penonton menangis, tapi bukan tangis lemah—
tangis yang menggugah,
yang membuat seseorang ingin menjadi lebih baik.
Di Bushehr, di tepi laut,
lingkaran konsentris berputar perlahan:
tangan kiri di pinggang teman,
tangan kanan memukul dada,
dan ketika “Pishkhan” berseru “Vahed!”—
Satu.
Semua menjadi satu.
Duka menyatu, langkah menyatu,
seperti air laut yang tak pernah berhenti pasang.
Di Grand Bazaar Tehran,
gang-gang sempit berubah menjadi panggung sejarah.
Pedagang kain, penjual rempah, dan tukang emas
menjadi pelayat, menjadi pemain, menjadi saksi.
Serikat dagang yang telah berusia seabad,
mengorganisir prosesi yang sama dari ayah ke anak.
Demikianlah,
680 tahun telah berlalu,
dan api di hati tak pernah padam.
Bukan karena benci,
tapi karena cinta yang begitu dalam
pada keadilan, pada kebenaran,
pada seseorang yang berdiri sendiri melawan gelombang.
Di setiap lumpur yang dioleskan,
di setiap batu yang dibenturkan,
di setiap sekop yang diangkat ke langit,
ada bisik yang terus berulang:
“Kami tidak lupa. Kami tidak akan lupa.
Dan selama ingatan ini hidup,
perlawanan ini tak akan mati.”
Dari Masa ke Masa
Dari Debu ke Debu
Dari Duka ke Cinta
Untuk Husain yang abadi