Enam Jenis Pekerjaan Filsuf

Semua jenis profesi akan mudah dikenali dari jenis pengetahuan dan keahlian secara spesifik. Pekerjaan seorang pedagang, dokter, arsitek, insinyur, pelukis, seniman, politisi, birokrat sangat jelas dan karena saking jelasnya, hampir tidak perlu membutuhkan tambahan keterangan.

Tetapi bagaimana dengan filsuf ?. Profesi dan jenis keahlian pengetahuan yang satu ini sangatlah bervariasi, menjadikan “profesi filsuf” jarang di temukan dalam masyarakat pada umumnya.  Justine E.H. Smith mengurai secara historis, enam jenis pekerjaan filsuf.  

Lengkapnya Justin Erik Halldor Smith, lahir 30 Juli 1972 di Reno, Nevada. Seorang Profesor Sejarah dan Filsafat Sains Amerika-Kanada di Universitas Paris-Denis Diderot.

Justine melalui bukunya yang di tulis tahun 2016, The Philosopher, A History in 6 Types, di terbitkan Princeton University Press mengurai deskripsi pekerjaan filsuf selama kurun waktu 2.500 tahun terakhir. Justine menulis Sejarah Filsafat dengan menghidupkan enam jenis tokoh yang telah menempati peran filsuf dalam berbagai masyarakat di seluruh dunia. Diantaranya; The Curiosa (Filsuf Alam), The Sage (Filsuf Bijak/Suci), The Gadfly (Filsuf Sosial), The Ascetic (Filsuf Pertapa), The Mandarin (Filsuf Profesional/Tukang), dan The Courtier (Filsuf Flamboyan).

Buku ini memberi peta profesi filsuf sekaligus memberi informasi pada kalayak tentang kejelasan pekerjaan sebagai seorang filsuf yang diakui sendiri oleh Justine sebagai pembagian profesi yang overlapping dan mutual eklusif (mutually exclusive).

The Curiosa

“The Curiosa” adalah para Fiilsuf Alam. Kategori filsuf ini menggeluti sesuatu dengan rasa ingin tahu yang tinggi, meneliti hal-hal yang  partikular dan kebenarannya bersifat abadi (singular things and timeless truths). (Justine E.H. Smith; 2016; 21). Kategori filsuf ini yang menjadi ukuran adalah observasinya pada alam empiris, meskipun filsuf tersebut juga melakukan observasi non empiris dan universal, seperti Aristoteles.

Diantara para filsuf lain, seperti, Heraklitus, Thales dan para filsuf abad 17 yang memiliki fokus pada studi empiris dan partikular (rest singularist).  Aristoteles yang meneliti tentang Biologi laut, meneliti paus. Heraklitos meneliti tentang panas dan dirinya sendiri yang berbaring diatas tungku, mengatakan, “disini Tuhan juga bertempat tinggal. Thales mengamati bintang-bintang atau perkebunan, dan meramalkan panen buah-buahan. Hipatia yang menciptakan astrolop dan memberbaiki rumus matematika, namun pada akhirnya dibunuh sangat mengenaskan. Di kalangan filsuf muslim, Ibnu Rusdy yang mengantarkan Barat pada renaisan. Hampir semua filsuf muslim abad pertengahan yang melakuan experimen empiris dapat masuk dalam kategori area kerja filsuf ini.

Olehkarena kegiatan filsuf ini dapat di kategorikan sebagai filsuf alam maka dikemudian hari menghasilkan sains dan teknologi.

The Sage

Pekerjaan filsuf kedua adalah menjadi orang bijak/suci (The Sage). Pekerjaan filsuf ini sebenarnya telah ada ribuan tahun di berbagai bangsa sebelum tradisi filsafat Yunani. Olehkarena itu menurut Justine, membatasi kegiatan filsuf sebagai orang bijak (Philosophy and Philosophia) hanya setelah era Yunani adalah suatu reduksi.

Pekerjaan “the Sage” sangat di hormati secara sosial olehkarena menjadi mediator antara alam imanen dan alam transenden, sebagai wakil penafsir kata-kata Tuhan. Filsuf jenis ini diantaranya Hermes (si ahli hikmat), seorang filsuf yang sebagian orang  percaya Hermes nama lain dari nabi Idris.

Hermes adalah orang suci yang bertugas membawa berita dan menterjemahkan maksud  dari para dewa/Tuhan. Hermes (nabi idris) artinya wakil Tuhan, yang kemudian menjadi akar makna hermeunetika. Hermes adalah orang suci yang menguasai ilmu langit dan bumi.

The Sage seperti juga si Oracle (orang bijak), seorang figur yang bisa memberi petunjuk antara alam material dan spiritual, dan dapat meramalkan di luar pengalaman manusia biasa. (Justine E.H. Smith; 2016; 54). Dalam dunia timur, seperti Budhiss, Brahmin, Sharman. Dalam pengertian ini, para nabi juga termasuk kategori “The Sage”.

The Gadfly

“The Gadfly” atau Filsuf Sosial adalah pekerjaan filsuf yang ketiga, bertugas mengubah masyarakat. Seorang mediator yang mendapat pesan dari agama, atau pesan dari langit, untuk mengubah manusia. Seorang perantara antara kehidupan sosial dan kehidupan illahiah. Mengkoreksi kehidupan masyarakat tertentu. Menjadi semacam kritikus sosial. Para filsuf  “The Gadfly” klasik diantarnya Sokrates, namu Socrates  tidak memiliki program tertentu, tetapi  “The Gadfly” modern, seperti  Cornel West memiliki program yang lebih jelas. Dialah seorang pembaharu atau reformis. (Justine E.H. Smith; 2016; 120)

The Ascetic

Jenis pekerjaan filsuf yang keempat adalah “The Ascetic” atau manusia pertapa. Pekerjaan utamanya adalah menyeimbangan antara badan dan jiwa, menolak otoritas agama, negara dan hal-hal yang menjadi menstreim. Filsuf ini mengklaim mengikuti hukum alam, hukum Tuhan, atau apapun di luar otoritas masyarakat dan menolak dunia materialisme.  Diantara jenis filsuf The Ascetic adalah Diogenes, Nietzsche dan para sufi seperti Jalaluddin Rumi dan Hafez. Seperti pengakuin Diogenes, dia hidup  tanpa  memiliki rumah, utang dan keluarga. (Justine E.H. Smith; 2016; 159)

The Mandarin

“The Mandarin” adalah filsuf yang hidup dan di didik secara akademis, memiliki legitimasi yang mewakili kebudayaan terbaik. Merasa memiliki hak otoritas mendefinisikan filsafat dan menjelaskan batasan batasanya. Mewakili faham negara, menjadi intelektual publik.  Biasanya filsuf The Mandarin memiliki gelar-gelar tertentu, seperti Thomas Khun, dengan Paradigma Sains. (Justine E.H. Smith, 2016: 190).

The Courtier

Terakhir “The Courtier”. Filsuf ini memiliki ciri hanya mengejar uang dan cinta, menjadi intelektual publik,  fokus pada kemajuan, kejayaan dan promosi dirinya sendiri (advance himself and his own glory) dan pada akhirnya untuk bayaran yang lebih baik (better payback). Filsuf ini seperti petugas istana. Seorang konsultan filsafat.  (Justine E.H. Smith, 2016:223)

Keenam kategori kerja profesi filsuf ini memberi gambaran dan bukti, betapa penentuan definisi filsafat pada awal kali menentukan job description para filsuf. Meski demikian, seperti dikatakan Justin, pengkategorian ini tidak besifat ketat, karena seorang filsuf terkadang bisa memainkan banyak peran. Termasuk juga kategori “The Cortier”, bisa jadi bukan filsuf tetapi para Sofis yang bekerja demi uang, cinta dan kejayaan dirinya sendiri. .

(Oleh Muhammad Ma’ruf, Peneliti Pemikiran Islam dan Barat)