Keajaiban

15/07/2020

 

Aku sedang merenungkan keajaiban manusia

Bukan posisi diatas ketika manusia menjalankan puisi diatas kondisi sosial politik

Bila hati telah tertambat pada anggur

Kemabukan urusan setiap jiwa emas pribadi

 

Bila terlalu bercampur berbagai jenis kondisi luka

Kita hanya mesin penyair yang kesepian seperti hutan belantara

Berupaya mengubah dunia sambil sibuk menjalani keluhan panjang

Mana permata mana kotoran di alis kepala

 

Lihat itu diwan Imam

Memuja kesuksesan prestasi gemintang sesudah bertempur dengan setan

Berbeda dari lelaki dari Lahore yang bersyair tentang Himayala dan keterpurukan bangsanya

Waktu Bergson meggoyang jenis kedirian Tuhan, hingga lupa waktu shalat tiba

 

Bukankah setiap jiwa yang mati hanya angin di siang bolong

Badai dan gelombang ada irama pastinya

Menyambutnya bukanlah menaklukan

Berjalanlah berdampingan dalam diam, sementara jiwa mengikuti alur gerak hukum Tuhan