Hampa

Hampa
27/02/2019

Oh duhai dunia yang kejam
Yang memisahkan pikiran dan hati pecah berserakan
Yang membunuh masa lalu demi masa depan
Untuk apa semua berlindung, atas nama apa?
Semuanya akan hancur lebur
Gunung terbelah, abu panas menyembur
Tanah menjadi debu
Mata menjadi merah dan perihnya terasa dalam dada terdalam
Semua berlarian mencari sanak saudaranya
Cita-cita dan perbuatan menunjuk diri kita

Wahai sahabat, semua sahabatku
Keempat kita bertemu dalam harumnya mekarnya masa muda
Sebuah tempat kota kecil seperti bintang kecil di angkasa
Lihatlah itu sekarang, kita menjadi digdaya dan tinggi
Kita tumbalkan masa lalu kita pada kejamnya dunia
Tak ada sawah dan benih padi
Tak ada laut, tak ada benih ikan
Tak ada tanah kebun, tak ada tempatnya bagi mawar
Keharuman dilumat oleh asap kemajuan dan zaman
Kita menjadi kering dan kekenyangan
Mabuk dengan keadaaan megahnya dunia kita masing masing
Teori dan pengalaman kita menjadi sembahan abadi

Lalu kita semua akan lumlai
Ujian datang sesuai dengan timbangan

Oh wahai pemimpinku, kaulah ksatria estetika dan pemuja wanita
Oh wahai insinyurku, kaulah penyelesai urusan dan keras seperti batu
Oh wahai sang penyabar, kaulah yang menyepi dalam kehati hatian yang akut

Mari sejenak menengoknya dalam hati kita
Dia sendiri dalam dunia sunyi
Mari menjadi temen terbaiknya saat kita dilanda kesulitan hidup
Kehampaan kesadaranya, aku sungguh merasakan
Segeralah tengok dan doakan
Kobarkan api cinta
Jangan tunda sebelum terlambat
Bisikan pada istrinya bahwa kita bukan penghianat
Aku tidak tahu cara mendamaikan kita semua

ya Allah Yang Maha Menyembuhkan
Berilah waktu lagi, perpanjangkan umurnya
Aku ingin melihat dia bernyanyi dan tersenyum lagi

Yang berserak berstatulah
Wahai matahari, angin, bulan dan bintang
Ubahlah hati kita ya Allah
Jadikan empat permata seperti semula