Ksatria penjual kurma
11/02/2019
Wahai sahabat
Si penjual kurma yang elok
Berdagang sekuat tenaga
Bertahan dalam amuk hidup
Persoalan kehidupan telah diolah para kyaimu
Yang hidup dengan petuah dengan kehidupan nyata
Bukan setelah mati, persoalan kehidupan diolah orang awam
Kau tak ada masalah dengan agama
Dengan pertanyaan dan jawaban
Segalanya jelas dan sempurna
Tapi, kala petir dan bencana alam silih berganti
Suhu kekuasaan merayu rayu
Menjanjikan menyincingkan lengan
Nafsu kaki melangkah untuk segera menjawab terdesaknya persoalan
Tanpa ampun membabat habis lawan lawan bicara
Bergerak lincah menjawab kebutuhan zaman
Bagai ksatria tak ragu ke medan pertempuran terakhirnya
Menjemput kematian tepat takdir Tuhan
Benarkah?
Bagi pembeli kurmamu kau beresiko salah jalan
Bagaimana jika medan ini hanya jebakan
Perangkap sementara untuk menaikkan bendera kesahidan yang kesiangan
Bukankah banyak pahlawan berumur panjang
Berderet jeruji besi jadi taman kota mereka
Pandai bernafas dan membaca lirih musof alquran
Menjinakkan kejadian demi kejadian
Menyelidiki detil huru hara musuh
Diam dalam perenungan matang
Bergerak gesit disamping dengkuran tidur musuh
Bukankah kebenaran tidak selalu di tunjukkan dalam pentas
Apalagi podium yang dipersiapkan musuh besar
Bukankah masih ada waktu 35 tahun, 7 musim ?
Oh wahai senyuman mungilmu
Kaulah sang penghibur dan permata keluarga
Betapa doa dan kejadian berdekatan
Meski kau dibenci handai taulan
Karena pilihan poliitik yang menghawatirkan
Cara berdagang kurmamu sungguh mempesona
Sebentar lagi ramadhan datang
Keuntungan di depan mata
Mari mari nikmati semarak puasa dengan kurma
Tapi kau pergi melesat diatas sayap jibril
Seperti tergesa menemui hakekat kekuasaan
Di singgasana alam antara
Ratapan tangis istri dan anak sebelum panen raya
Sahabat…
Aku merenung panjang
Bagaimana menjinakan kematian dan hakekat kekuasaan
Ada ilmu membaca keadaan
Ada doa musuh tak bisa melihat
Ada senyap geraknya ksatria
Seperti Tsaqafi yang meninggalkan lahan gandumnya
Ada kematangan dalam memilih setiap medan laga