Hari Keduapuluhlima
17/12/2018
Mari wahai angin
Kemarilah
Mari berdamai denganku
Kukatakan dan dengarlah!
Hati memang tidak pernah terpisah
Saat memikirkan betapa indahnya hidup ini
Pikiran memang tidak pernah terpisah
Saat hati merasakan betapa indahya hidup ini
Oh duhai hati
Berbicara langsung tapi mulut diam
Oh duhai pikiran
Berkata dalam simbol dan kebingungan
Marilah kita mengajak keduanya
Berdansa dengan nasib kehidupan
Bukankah manusia akan meninggalkan semua ini
Bukankah semua yang kau lakukan kau tinggalkan
Bukankah semua yang kau rasakan kau tinggalkan
Bukankah semua yang kau pikirkan kau tinggalkan
Bukankah semua yang kau miliki kau tinggalkan
Oh duhai jiwa yang beku
Lihat cermin jiwa yang bercahaya
Jangan kau campur kata pahit dengan yang manis
Jangan kau lihat ketidaktahuan berbantahan dengan tahu
Jangan kau kunyah benci dan kecintaan
Jangan kau rasakan musim panas dan dinginnya musim dingin di satu musim
Jangan kau lihat kematian dengan kehidupan
Jangan kau lawankan pengukuhan dan perlawanan
Semua itu permainan mulut
Bia kau tau dengan diamnya rahasai hati
Setialah pada tujuan
Kenapa kau ingin balik saat melihat indahnya laut saat kau menjadi ikan
Kenapa menjadi pelukis alam saat kau menjadi burung dan terbang
Kenapa kau selalu ingin balik
Lihatlah itu para pelancong cinta
Sudah menaiki kapal di dermaga indah
Suara sirine meraung tanda perjalanan dimulai
Bersiaplah, kau menjadi bukan akan
Kehidupan adalah kematian
Dari pengikut setia materi
Kehidupan baru dimulai saat jiwa lari dari penjara dunia
Bahagialah dengan pilihan ini