Sahabat dingin

27/01/2018

Dingin hawa mulai bersahabat
Kering kulit seperti sedia kala
Hujan rintik kecil datang

Bangunan warna coklat muda
Khas persia
Perspustakaan mungil di baseman
Disampingnya dapur
Tempat teh berpesta
Diatasnya lobi, berjajar buku
Disampinya halaman belakang
Cukup untuk berlari dan menghirup udara

Diatasnya mushola
Bersih dan nyaman
Diatasnya dibagi dua
Disamping tempat tidur
Disamping bilik bilik kantor

Hanya satu yang tak ada
Satu kamar untuk satu orang
Gangguan bisikan saiton memanggil

Diam….diam….
Oh wahai jiwa yang kelam
Terimalah takdir terbaik ini

Bukankah kau akan rindu
Seperti dulu kala
Saat serba kurang
Kau pulang dan rindu

Saatnya berdoa
Maka berdoalah wahai jiwa

Ya Allah
Berilah umur panjang
Berikan kesempatan
Untuk meneliti dan menulis
Tentang ketidaktauan
Tentang cita-cita yang Maha Dahsyat
Tentang segenap kenikmatan kebebasan
Dari rasa wali agung

Sementara serak serak politik
Getir ekonomi
Hanya gangguan tidur
Karena lupa berdoa

Oh jiwa
Jiwa
jiwa
jiwaku mengamuk
mencari Hafez, Rumi dan Mulla Sadra
oh apakah sejarah itu?
Tanyalah pada Popper
Atau sedikit wawasan dari Edward S

Oh apakah dan bagaimana semestinya berjalan
Sosial, budaya, politik
Kau tau
Beranilah berpendapat
Mandirilah
Kau tak punya siapa siapa
Di tanah yang dingin ini

Menulislah
Dalam wadah negara
Yang sudah berhasil dibuat
Yang genting dan temboknya
Dibuat dari bahan terpilih
Gerbongny berjalan sudah semestinya
Nikmatilah kereta ini
Tujuanya jelas
Menerjang dan memandu

Tak perlu sedih
Karena peradaban
Bukan dari rasa kebebasan
Yang datang dari
Campuran ilmu dan kekuasaan nafsu

Peradaban
Adalah gizi teratur
Ilmu yang mendekte
Dengan hukum
Dan segenap seperangkat
Wahyu dan akal
Inilah calon pemenang
Jika kita siap
Hidup dalam
Kebebasan
Keindahan
Kenikmatan
Gaya wali
Hilangah setiap saat