MP-Gagasan ini memang menyelinap begitu saja. Apakah itu softpower ?, apakah itu Pancasila ? Apa itu iman ?.
Tentu dalam bahasa yang keren softpower adalah epsitemologi. Caramu melihat dunia, berinteraksi, menangkap, memanfaatkan instrumen akal, hati, intusi, dan cara menyimpulkan apapun tentang dunia. Gambaran globalmu tentang apa saja (world view) ditentukan karakter epistemologimu. Lalu iman, …apakah masuk dalam softpower ?. Kita tunda dulu ya.
Iman adalah keyakinan hati pada Tuhan, buah/anugerah atau kondisi batin berupa keindahan hasil ilmu, niat dan perbuatan. Iman adalah tampilan terdalam dari rupa jawara orang yang berilmu dan beramal sholeh. Hati yang selalu tunduk, rendah hati dan pesona gembira.
Pancasila adalah 5 lima nilai, sebagai fundasi/dasar negara dan bangsa Indonesia. 5 fondasi bisa bisa diperas menjadi “gotong royong”, bisa “ketuhanan”. Saya memilih gotong royong yang didasari ketuhanan. Kalau gotong royong mendasari ketuhanan, agak sulit, karena sifat sosial adalah bagian dari sifat manusia, selain sifat individual, sifat 2 Tuhan menjelma dalam diri manusia-individu dan sosial-atau kita singkat manusia spiritual.. Jadi kemanusiaan dan kedilanya berbasis ketuhanan. Bukan hanya sifat sosial (gotong royong) per se.
Lalu iman dalam Pancasila bagaimana ?, secara konstitusional, iman dimaknai pengejawantahan kebebasan dalam beragama. Apakah selain kebebasan beragama ada makna lain ?, Ada, akomodasi hukum agama menjadi hukum nasional, selain dari hukum adat dan Belanda. Jadi iman nampak dan diakomodasi dalam atmosfir “kebebasan beragama dan adopsi hukum agama”.
Iman dalam Pancasila sejauh ini memancar dari dua elemen itu. Ritual-ritual agama mewarnai upacara kenegaraan.
Lalu iman yang mana yang belum memancar ?
Iman yang menjadi kekuatan bernegara dan berbangsa belum nampak hingga kini. Belum terekpresikan, belum menjadi softpower karena di curigai bertentangan dengan semangat Pancasila. Softpower adalah kekuatan dalam. Kekutan diri sebagai bangsa dan negara. Iman belum dijadikan softpower. Iman masih dianggap remang-remang, sering disebut tapi tidak manunggal dalam ekpresi berbangsa dan bernegara.
Setidaknya Sukarnolah yang justru mempraktekkan iman sebagai sofpower menyatu dengan semangat Pancasila. Menurut Sukarno, Pancasila tidak hanya alat menyatukan bangsa dan negara tapi menyatukan dalam melawan kapitalisme dan imperalisme (ketidakadilan). Melawan ketidakadilan adalah salah satu bentuk keyakinan, dalam pengertian tauhid sosial.
Oleh Suharto dianggap penyimpangan, karena yang searah dengan semangat Pancasila adalah anti Komunisme. Oleh orang-orang reformis masa reformasi, Pancasila di liberalkan, dibebaskan dari idealogi untuk diselaraskan dengan tata kelola liberal barat. Ideologi dianggap penyakit komunisme dan dikatatorisme. Liberal dianggap steril dari diktatorisme dan komunisme. Padahal oligarki dan deepstate bentuk lain dari ideologi yang memanfaatkan negara-negara liberal.
Iman dalam masa reformasi diasingkan dari semangat Pancasila yang menyatukan gotong royong dengan semangat ketuhanan, semangat iman.
Artinya “iman” diajikan ritual yang menghiasi bangsa dan negara secara artifisial, bukan softpower bangsa dan negara.
Orang-orang liberal reformis tidak percaya pada iman yang menyatu dengan bangsa dan negara, Iman adalah benda asing, artefak gagal barat musuh modernisme global. Bangsa dan negara adalah individualisasi yang di rayakan dengan pesta nihilistik. Nilai Pancasila di tenggelamkan dalam pesta nihilistik. Gender bukan pilihan Tuhan karena pilihan di tangan sang nihilistik.