Ya Haidar, Ya Iqbal

23/06/2019

Delapan puluh tahun silam
Iqbal bergemuruh tentang penderitaan bangsanya
“Diri” diledakan dalam kehidupan sosial
Tangga tangga pemikiran bertarung dengan amuk penindasan

Pria dari solo meramu “kudhi’ di kota Bandung
Apinya dikibarkan dalam spiritualisme Hosein Nasr di kota Wasington
Wahai “diri” dalam gejolak hukum dan politik
Tempat setan terindah bersembunyi membuatmu dalam badai frustasi

Oh zaman edan, dirinya oleng api takfiri
Kestabilan pikiranya terganggu
Diamlah dalam badai bersama keris subjektifisme…. dunia barat yang pongah!!!
Menyerahlah pada “diri” tasawuf, sang senjata pamungkas

Oh wahai anak berprestasi yang terus beruban
Buku-buku kau sebarkan, dicintai masyarakat pengagum makrifat
Filantropi, pendidikan dan maraknya kegiatan sosial
Inilah kegilaan hijabmu !!!

Mari dengarkanlah suara yang kau remehkan
Bukankah kau melihat cahaya Tuhan dari bilik kesejahteraan terbatas
Bukankah diri sebenarnya adalah dia yang bergelut dengan air mata keadilan dan penderitaan
Berdiri di tengah orang-orang yang berevolusi ditengah zamanya

Bukankah sang ksatria bukanlah pencerita dongeng “diri”
Dia yang terlibat dengan urusan perjalanan negara dan dunia yang kejam nan rumit
Dia bersuara lantang, menjadi masinis kehidupan bangsa
Dia yang memperbaiki gerbong menuju taman taman bunga

Itulah “kudhi Iqbal” yang berjarak dengan dirimu
Mari dengarkan muridmu !!!
Dukunglah proyek Ibnu Sina dan para pendukungnya
Bantulah membangun benteng dari serangan Tartar modern

Berhentilah jualan buku
Berhentilah kegiatan sosial ini dan itu
Tinggalkan gemerlap piala citra, jadilah penyair ya Haidar, ya iqbalis
Saatnya menebar bunga menjalani “lirih suluk perjuangan” makrifat Diponegoro