Sejarah tanah tumpah dan darah

10/04/2019
Suatu zaman dibalik jendela negeri
Mataku membidik di balik bilik
Pemandangan nan luas memanggang jiwa
Inilah tanah di garis katulistiwa
Lihatlah usianya, pulau menyatu kemudian retak berserak
Pulau-pulau mengapung mengitari penghuni

Aku tidak tahu sejak kapan ada manusia disini
Sejarahnya tidak bisa dipastikan bagai ilmu hitung
Bintang bertaburan, petir sering menyambar nyambar
Hujan terus mengguyur, matahari terus memanggang
Pohon-pohon berbaris acak menguasai hutan dan gunung
Buah, sayuran, obat obatan, kayu cendana melimpah ruah

Air menggenang dimana mana, mengitari tanah tanah subur
Dari ujung ke ujung, nelayan selalu menyongsong matahari
Malam selalu bertabur gemintang
Nyanyian sendu terus menyala nyala
Kerajaan demi kerajaan berlomba berkuasa
Agama mengevaluasi, menambal luka dan memberi harapan

Para penjarah datang silih berganti
Memakmurkan negeri kampungnya
Kenangan penindasan di tulis dengan sudut pandang aneh

Kita menjadi pewaris kekalahan demi kekalahan
Keras jiwa kita di tempa amuk badai dinamika perpecahan
Disulut oleh api kemenangan dari genangan darah asing
Emas, kemashuran dan keselamatan
Sumpah setia pemberkatan hingga ajal
Sejarah oh sejarah tanah airku
Teruslah gali dan gali, jangan suntikkan apa yang tiada di jiwa negeri ini
Kepribadian adalah jiwa bersama dari kesamaan ketertindasan
Olahlah baik baik dan jadilah kita sendiri