Falsifikasi; Marxisme dan Psikoanalisis

 Falsifikasi; Marxisme dan Psikoanalisis 

Tulisan ini akan menjelaskan teori alternatif tentang sifat metode ilmiah, dan dasar demarkasi sains dan non-sains, yang disebut Falsifikasi. Diskusi tentang Falsifikasi akan mengantarkan kita pada kelemahan“induksi yang bersifat naif” sambil mengelaborasi beberapa pemikiran inti di baliknya. Marxisme dan Psikoanalisis adalah ilustrasi yang jelas bagi Popper.

Marxisme dan Psikoanalisis adalah dua aliran yang menonjol. Pada pemakaman Karl Marx (1818–1883), teman dan kolaboratornya Frederick Engels (1820–1895) mengatakan bahwa sama seperti Darwin yang telah menemukan prinsip-prinsip ilmiah yang mendasari perkembangan spesies, maka Marx telah menemukan prinsip-prinsip ilmiah yang mendasari perkembangan masyarakat.

Demikian pula, Sigmund Freud (1856–1939) mengklaim bahwa penemuannya sendiri sebanding dengan penemuan Copernicus dan Darwin, dan menganggap teori-teorinya tentang represi seksual, dan ego, id dan superego, dan seterusnya sepenuhnya ilmiah.

Karena berbagai alasan, Marxisme dan Psikoanalisis sama-sama diterima secara luas (mungkin dengan benar) sebagai sesuatu yang telah diterima dewasa ini; namun, banyak prestasi ilmiah terbesar abad kedua puluh dipengaruhi oleh salah satu dari mereka, dan dapat diperdebatkan bahwa pengaruhnya terhadap sejarah abad ke-20 sangat mendalam.

Ketika muda, Popper tertarik oleh Marxisme dan Psikoanalisis, namun dengan cepat kemudian dia menjadi kecewa.

Karl Popper memiliki pengaruh yang besar terhadap Filsafat Sains selama abad ke-20 dan banyak ilmuwan mengambil idenya. Ia menjadi anggota “Royal Society of London”, salah satu asosiasi ilmiah paling bergengsi. Informasi lain, “Falsifikasi Popper” mungkin sekarang lebih populer di kalangan para ilmuwan daripada di kalangan filsuf.

Medan pertempuran utama perdebatan tentang “demarkasi” sebenarnya dalam ilmu sosial. Seperti yang kita ketahui, cita-cita ilmu sosial adalah produk dari abad ke-18, yang merupakan imbas antusiasme intelektual pada saat itu dan antusiasme ini akibat keberhasilan fisika Newton dan ilmu-ilmu baru lainnya seperti kimia, fisiologi dan sebagainya, yang belakangan maju dan berkembang pesat.

Berbagai pemikir menyarankan bahwa langkah logis berikutnya adalah penerapan metode yang sama untuk penemuan hukum yang mengatur metode perilaku manusia dan masyarakat. Periode dalam sejarah intelektual ini dikenal sebagai ‘zaman pencerahan akal’ yang dicirikan oleh optimisme yang mendalam tentang apa yang dapat dicapai, jika manusia secara mandiri dapat belajar untuk mengatur diri mereka sendiri secara rasional sesuai dengan “naturnya” sains masyarakat.

Popper menganggap Marxisme dan Psikoanalisis sebagai pseudo-ilmiah dan berusaha menjelaskan teori ini sebagai ilmu yang sangat sukses jika diasumsikan bahwa pengetahuan ilmiah berlangsung, dan dibenarkan, dengan akumulasi contoh-contoh positif dari teori dan hukum dua aliran tersebut.

Pada pandangan ini, sepertinya sebagai bentuk pembenaran hukum, bahwa semua logam memuai karena pemanasan akan tetapi menjadi masalah karena ada banyak kasus logam tertentu yang mengembang ketika dipanaskan.

Marxis dan Psikoanalis, keduanya memiliki banyak contoh fenomena yang merupakan contoh dari prinsip-prinsip umum mereka. Masalahnya, sejauh menyangkut Popper, adalah bahwa terlalu mudah untuk mengumpulkan contoh-contoh positif yang mendukung beberapa teori, terutama ketika teori itu begitu umum dalam klaimnya.

Demikian pula, Popper mengatakan bahwa banyak penganut Marxisme dan Psikoanalisis terlalu terkesan dengan kekuatan explanasi dan melihat konfirmasi yang bertebaran di mana-mana. Kaum Marxis melihat setiap pemogokan sebagai bukti lebih lanjut untuk teori perjuangan kelas, demikian pula kaum Psikoanalis memperlakukan setiap contoh neurosis sebagai bukti lebih lanjut untuk teori-teori Freud.

Masalahnya, menurut Popper, mereka tidak membuat prediksi yang tepat. Memang, kedua teori mampu menjelaskan bukti, namun hal ini hanya langkah awal. Jadi, misalnya, berbagai tindakan untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan pekerja diperkenalkan di Inggris pada abad kesembilan belas dan fakta ini tampaknya bertentangan dengan Marxisme, dimana kelas penguasa tidak berkepentingan untuk memastikan kehidupan yang layak terhadap kondisi kerja orang miskin.

Namun beberapa Marxis berpendapat bahwa, pada kenyataannya, pengenalan hukum yang buruk dan seterusnya mengkonfirmasi Marxisme karena mereka menunjukkan bahwa kapitalis menyadari akan terjadinya revolusi proletar dan berusaha menenangkan para pekerja untuk menghentikan atau menundanya.

Secara umum, kekhawatiran Popper tentang gagasan bahwa konfirmasi merupakan hal mendasar bagi metode ilmiah adalah bahwa jika Anda berada dalam cengkeraman sebuah teori, mudah untuk menemukan contoh konfirmasi, terutama jika teorinya adalah yang tidak jelas dan bersifat umum. Sebaliknya, Popper sangat terkesan dengan konfirmasi eksperimental teori relativitas umum Einstein pada tahun 1917.

Einstein meramalkan bahwa cahaya yang lewat di dekat Matahari seharusnya memiliki jalur yang melengkung karena medan gravitasi Matahari. Hal yang mengagumkan tentang teori ini sejauh menyangkut Popper adalah bahwa ia membuat prediksi yang sangat berisiko, yang dapat dikatakan dengan mudah dapat menjadi salah.

Jadi Popper berpendapat bahwa ‘konfirmasi’ yang seharusnya diperoleh dari pengamatan agar sesuai dengan teori, hanya, ketika menjadi contoh prediksi berisiko oleh sebuah teori; olehkarena itu menjadi berpotensi dapat di falsifikasi oleh sebuah teori.

Dia berpikir bahwa hal yang mengesankan tentang teori ilmiah yang sesunggunya adalah bahwa mereka membuat prediksi yang tepat dari fenomena mengejutkan dan ilmuwan sejati siap untuk menolaknya jika prediksi mereka tidak dibuktikan oleh eksperimen.

Bukan hanya Marxisme dan Psikoanalisis yang terlalu samar-samar untuk tunduk pada penolakan oleh pengalaman, tetapi lebih jauh lagi, kaum Marxis dan Psikoanalis juga kadang-kadang condong ke kritik intelektual sampingan karena teori mereka menjelaskan mengapa orang akan menentangnya.

Jika seseorang menolak Marxisme, seseorang mungkin dituduh memiliki kepentingan kelas dalam mempertahankan sistem kapitalis; samahalnya, seseorang yang sangat menentang Psikoanalisis mungkin dituduh telah ditindas. Tentu saja, mungkin salah satu atau kedua klaim ini benar dalam banyak atau bahkan semua kasus; Intinya adalah bahwa teori-teori ini tampaknya menyangkal kemungkinan kritik, dan itu adalah karakteristik yang Popper anggap “anathema” terhadap sains.

Oleh karena itu, Popper sampai pada pandangan bahwa bukan konfirmasi tetapi Falisifikasi yang merupakan inti dari metode ilmiah.

Solusi Popper untuk masalah induksi hanyalah untuk menyatakan bahwa itu tidak menunjukkan bahwa pengetahuan ilmiah tidak dibenarkan, karena sains tidak bergantung pada induksi sama sekali. Popper menunjukkan bahwa, ada asimetri logis antara konfirmasi dan Falisifikasi generalisasi universal. Masalah induksi muncul karena tidak peduli berapapun banyak contoh positif dari generalisasi yang diamati, masih memungkinkan contoh berikutnya akan dapat difalsifikasi.

Namun, jika kita mengambil generalisasi seperti semua angsa berwarna putih, maka hanya mengamati satu angsa yang tidak berwarna putih dapat memfalsifikasi hipotesis ini. Popper berpendapat bahwa sains pada dasarnya adalah tentang falsifikasi daripada usaha menkonfirmasi teori, dan karena itu dia berpikir bahwa sains dapat berjalan tanpa induksi karena kesimpulan dari contoh falsifikasi murni bersifat deduktif (oleh karena itu, teori metode ilmiahnya disebut “falsificationism”)

Popper berpandangan bahwa teori yang pada prinsipnya tidak dapat dibuktikan oleh pengalaman tidak ilmiah. Diantar acontoh pernyataan yang tidak dapat difalsifikasi:

Entah hujan atau tidak hujan.
Tuhan tidak memiliki sebab.
Semua bujangan belum menikah.
Secara logis mungkin ruang itu tidak terbatas.
Manusia memiliki kehendak bebas.

Jelas, tidak ada jumlah pengamatan yang cukup untuk membantah teori-teori ini. Sekarang seperti yang telah kita lihat, Popper juga berpikir bahwa teori seperti ‘semua neurosis disebabkan oleh trauma masa kanak-kanak’ tidak dapat dibuktikan dan sangat tidak ilmiah.

Setelah membedakan antara hipotesis yang dapat difalsifikasi dan yang tidak dapat difalsifikasi, Popper berpendapat bahwa kelanjutan sains tidak dengan menguji teori dan mengumpulkan dukungan induktif positif untuk itu, tetapi dengan mencoba memfalsifikasi teori; cara yang benar untuk menguji suatu teori bukanlah untuk mencoba dan menunjukkan bahwa itu benar tetapi mencoba dan menunjukkan bahwa itu salah.

Setelah hipotesis telah dikembangkan, prediksi harus dideduksi, sehingga dapat dikenakan pengujian eksperimental. Jika itu dapat difalsifikasi maka itu ditinggalkan, tetapi jika tidak dapat difalsifikasi, ini berarti itu harus dikenakan tes yang lebih ketat dan usaha yang cerdik untuk memfalsifikasi.

Jadi apa yang kami sebut konfirmasi, menurut Popper, benar-benar hanya reduksi yang gagal:

Pekerjaan falsifikasi bagi Popper, adalah upaya untuk memecahkan masalah dengan menarik dugaan yang berani, bahkan, jika segera menyatakan hasil yang sebaliknya, dalam pertunjukkan rangkaian yang tidak relevan. Kata Popper, kami lebih memilih langkah ini karena percaya bahwa ini adalah cara di mana kami dapat belajar dari kesalahan; dan bahwa dalam menemukan “dugaan”  yang salah, kita akan belajar banyak tentang kebenaran, dan akan semakin mendekati kebenaran.) (Popper 1969: 231)

Inilah sebabnya, metodologi Popper sering disebut metode ‘dugaan dan bantahan’ (the method of ‘conjectures and refutations’) menjadi nama salah satu bukunya. Menurut Popper, ilmu pengetahuan berkembang melalui seleksi alam dan para ilmuwan hanya belajar dari kesalahan mereka.( Muhammad Ma’ruf, Peneliti Pemikiran Barat dan Islam Kontemporer).