sepi meradang
bagi tempayan kesepian
sepi menderu
bagai knalpot menderu deru
sepi mencekam
pada batu di padang gurun
oh indah nian
gempita alam
oh indah nian
suara masa berteriak teriak
jika bergerak, tanda gerak alam
jika berdenyut kencang itulah dada manusia
bukankah kita tak sampai pada akhir makna kehidupan
bukankah selalu pada pengantar
jika dan jika
itulah kata keyakinan dari kalimat
taukah kau dan kita ini
kemana bangsa bangsa bergerak
taukah kau dan kita ini
kemana kerumunana negara berjalan
bagai kereta kencana
di duduki para punggawa
apakah tali cemeti itu?
dia yang berkilat kilat
memompa cepat melesat
kemana, keujung tanpa ujung
langit berteriak
oh nestapa
berjalanlah wahai pejalan
berjalanlah terus dalam kesepian
berjalanlah tanpa kawan
jika semua menyerah dan kalah
kau dan kita tak perlu meradang
karena kita bersama
ada teman tak perlu kelihatan
ada kawan tak perlu kerumunan
hiburan adalan hiburan
manakala sepi mencekam
menjadi doa keramat
pada gunung gunung belantara
jangan hidup menurut orang
hiduplah wahai ksatria
dalam dupa suci
dalam hangatnya angin
dalam dalamnya samudera
dalam tingginya angkasa
dalam rel kereta para pungawa
berjalanlah pada ujung yang pasti
jalan tanpa ujung
adalah kegagalan menangkap makna
hiduplah ya hiduplah
pada kehidupan
pada kekuatan
pada realitas menjulang
dia disana
segala teori disandarkan
segala ilmu menopang
biarlah teropong mata dan tangan
menggenggam tangan tangan penderita
kau dan kita dan Tuhan dan alam dan manusia
dan juga sejarah
adalah bingkai
tapi sejarah
adalah warung yang selalu siap
tunggulah aku, tunggu aku
akan aku beli semua yang perlu
untuk menjelaskan pemahamanku
tetang masyarakat dan dunia
kupersembahkan yang perlu
dan kau akan tersenyum bangga padaku
akulah kstaria pengelana
pahlawan tanpa nisan bertulis emas
yang jasanya
di robek robek
para perampok dunia
oh sepi mencekam
daulat semesta