Salam segala salam
Salam segala salam kuucapkan
Kepada alam, kepada matahari, kepada masa
Kepada segala salam
Salam kepada telaga air, pancuran ilmu dan makrifat
Oh duka lara dunia
di ukir oleh para pujangga dan ksatria
dengan air mata, darah dan ilmu
tersembunyi di serat-serat, di tembang-tembang kapunjanggan
berpengaruh pada sentra sentra kekuasaan
melukis dalam diri petani di pedalaman
sepoi-sepoi dalam dada nelayan di pantai-pantai
sesunggunya kehidupan silam
muncul dari ketinggian gunung
dar keluasan laut
tinggi dan dalam menjadi sebuah perlambang nyata
itulah kehidupamn kita
kehidupan yang diolah bumi pertiwi, buminya leluhur sendiri
Nusantara
nasib mu dulu, kini dan kedepan
dibawah bayang-bayang para perusak alam
mereka berbondong bondong memborong
cengkeh, pala, tembakau
kini mereka terus menghisap minyak dan gas
memakan batu bara, dan berternak uang
oh salam sungguh salam
sayang di sayang bagi yang berucap salam
salam bercerita, wahai engkau hati
wahai engkau pikiran
kenapa kau diam tak menjawab salam dariku
salam terus bertanya gelisah
kapan kau punya waktu menjawab salam
salam pun tak dijawab
karena manusia diciptakan Tuhan untuk Tuhan
namun manusia berontak dan melawan
aku diciptakan, kata manusia
untuk manusia…
dari manusia, oleh manusia untuk manusia
lalu buat apa lagi kau masih bicara Tuhan?
bukankah tidak relevan membicarakan kegunaan Tuhan untuk manusia
sementara manusia
menganggap dirinya bisa memenuhi segala kebutuhan