Sains Modern  dan Dunia Islam

Oleh :  Muhammad Ma'ruf

Salah satu isu paling populer di dunia Islam kontemporer adalah tentang respon  terhadap sains modern. Fokus utama para pemikir muslim adalah bagaimana menyikap kemajuan sains modern agar sesuai dengan Pandangan dunia Islam. Sains modern datang ke dunia Islam tidak serta merta steril dari pandangan dunia yang dibawanya. Beragam respon mencuat dikalangan muslim menanggapi isu tersebut.

Seperti yang kita ketahui, pertanyaan tentang tujuan mencari pengetahuan,memiliki tiga pandangan.

-Mencari pengetahuan untuk memahami  fenomena alam. Ini adalah pandangan lama.

-Mencari pengetahuan untuk mencari tahu tentang kemuliaan ciptaan Tuhan dan menggunakan fasilitas alam untuk kemajuan umat manusia. Inilah pandangan ketiga agama monoteistik.

– Mencari ilmu demi mendapatkan kekuatan dan kekayaan. Pandangan ini menjadi populer selama abad kedua puluh.

Sayangnya pandangan terakhir menjadi pandangan dominan di antara pemerintah Barat, dan menyebabkan pengabaian dimensi spiritual umat manusia. Seperti yang dikatakan E. Schumaher:

Selama abad kesembilan belas sebuah sekolah filsafat bernama positivisme menjadi sangat populer di kalangan ilmiah. Menurut aliran pemikiran ini, hanya pengetahuan semacam itu yang berakar dalam pengalaman indera kita saja yang relevan. Dengan demikian, isu-isu metafisik dianggap tidak relevan, dan dengan itu pula agama-agama tidak dapat bertahan lama di kalangan ilmiah.

Pandangan ini menembus ke dunia Islam dan melemahkan pandangan agama yang memberi identitas kuat pada umat Islam.

(II) Pertemuan Dunia Islam dengan Sains Modern

Ilmu pengetahuan modern memasuki dunia Islam pada awal abad kesembilan belas, pada saat ilmu alam dan fisik berada pada titik terendah di dunia Islam. Ada empat jenis reaksi terhadapnya:

(1) Beberapa cendekiawan Muslim menolak sains modern sebagai pemikiran asing (korup), karena tidak sesuai dengan ajaran Islam dasar. Dalam pandangan mereka, masyarakat Islam harus mengembangkan ilmu mereka sendiri.

(2) Beberapa intelektual Muslim, mengadvokasi mengadopsi sains modern sepenuhnya. Dalam pandangan mereka, satu-satunya obat untuk masyarakat Muslim yang stagnan adalah penguasaan ilmu pengetahuan modern dan penggantian pandangan dunia agama oleh pandangan dunia ilmiah. Mereka melihat sains sebagai satu-satunya sumber pencerahan sejati.

(3) Beberapa cendekiawan Muslim mencoba berbagai cara untuk menyesuaikan Islam dengan temuan-temuan sains modern. Kelompok ini membentuk mayoritas ilmuwan Muslim yang setia, dan orang dapat mengategorikannya dalam subkelompok berikut:

(a) Beberapa pemikir Muslim melihat sains modern sebagai kelanjutan dari sains di era peradaban Islam, dan mencoba membujuk umat Islam untuk mendapatkan sains modern untuk menjaga independensi mereka dan mengikuti perkembangan di dunia Barat.

(b) Beberapa ulama mencoba untuk menunjukkan bahwa semua penemuan ilmiah penting telah diprediksi dalam tradisi Al-Qur’an dan Islam, dan dengan menarik ilmu pengetahuan modern seseorang dapat menjelaskan berbagai aspek keyakinannya. Mereka percaya bahwa sains empiris telah mencapai kesimpulan yang sama dengan yang disebutkan oleh nabi-nabi sebelumnya lebih dari seribu tahun yang lalu. Hanya wahyu memiliki hak istimewa bernubuat.

(c) Beberapa sarjana menganjurkan interpretasi ulang Islam. Dalam pandangan mereka, seseorang harus mencoba membangun teologi baru yang dapat membangun hubungan yang layak antara Islam dan sains modern. Sarjana India, Sir Seyyed Ahmad Khan, dengan teologi alam bependapat, orang dapat menafsirkan kembali prinsip-prinsip dasar Islam dalam terang ilmu pengetahuan modern.

(4) Akhirnya, beberapa filsuf Muslim memisahkan temuan sains modern dari ikatan filosofisnya. Jadi, sementara mereka memuji upaya ilmuwan Barat untuk penemuan rahasia alam, mereka memperingatkan terhadap interpretasi empirisme dan materialistis dari temuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah dapat mengungkapkan aspek-aspek tertentu dari dunia fisik, tetapi, itu tidak harus diidentifikasi dengan alfa dan omega pengetahuan. Sebaliknya, itu harus diintegrasikan ke dalam kerangka metafisik-konsisten dengan pandangan dunia Islam-kerangka di mana tingkat pengetahuan yang lebih tinggi diakui dan peran ilmu pengetahuan dalam membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhan terpenuhi.


Comments are closed.