Poin Signifikan Peta Sekulerisme

Oleh :  Muhammad Ma'ruf

Poin tulisan berikut mencoba membahas tentang wacana signifikansi “sekulerisme”. Memahami sekulerisme yang kita kenal di era kontemporer artinya satu nafas dengan upaya sistematis pereduksian agama, individu, dan masyarakat. Tulisan ini merupakan peta sederhana dan informatif, sebuah informasi pendahuluan dan bekal membahas seluk beluk sekulerisme.

“Mendefinisikan” sebuah konsep berbeda dari “menentukan/mendeterminasi” konsepnya, dalam arti bahwa yang pertama berkaitan dengan generalisasi tetapi kemudian yang kedua menekankan spesifikasi. Sistem pengetahuan membutuhkan diskusi berikut, mari kita coba mendefinisikan dan menentukan sekularisasi. Sekularisasi adalah fenomena yang “lebih rendah” dan memiliki konsekuensi, yakni definisinya mengikuti kerangka definisi agama. Fenomena ini, oleh karena itu, dapat diwujudkan dalam tiga level; “agama”, “individu agama” dan “masyarakat agama”.

Sekularisasi dalam kontek agama harus didefinisikan sebagai “segala batasan atau distorsi dan menghadirkan sebagai alternatif-alternatif non-religius”. Di tingkat individu dan masyarakat, harus didefinisikan sebagai “setiap upaya untuk mengurangi posisi dan pentingnya agama dalam pikiran individu dan dalam masyarakat”.

“Diferensiasi” adalah esensi dari masing-masing agama dan keberadaan keragaman agama membuktikan fakta ini. Dengan kata lain, agama berbeda sehubungan dengan “tujuan”, “kontek”, “subyek” dan “prosedur”. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa semua agama mengalami sekularisasi, tetapi “definisi”, “pengalaman” dan “teori” nya berbeda karena faktor agama yang berbeda beda.

Tidak bisa dihindari oleh perubahan waktu, hubungan manusia dengan agama dapat berubah dengan dua cara: seseorang dapat mengubah “agamanya” atau dia mungkin mengubah “cara dia mempraktikkan agama”. Mengubah agama terjadi dalam dua cara: “mengubah” atau “kembali” ke agama. Mengubah “cara seseorang menjalankan agama” mengandung perubahan “interpretasi” atau “spektrum” dalam mempraktikkan agama. Upaya “menghilangkan peran” agama dalam kontek sekulerisasi berarti memutuskan hubungan dengan agama dan untuk selanjutnya terhubung dengan “ideologi” dan “agama palsu”.

Teori Sekularisasi
Teori adalah hasil induksi dari realitas. Teori setelah diusulkan, harus dibaca, dianalisis, dan dikritik oleh orang lain. Teori dapat dianggap baik dalam menawarkan pandangan yang lebih baik dari realitas dan buruk dalam mereduksi realitas. “Generalisasi dan ramalan kejadian” diharapkan dari masing-masing teori, tetapi seseorang harus berhati-hati dalam menerapkan teori apa pun. Teori sekularisasi yang terutama berasal dari pengalaman Kristen-Barat harus digeneralisasikan dan diterapkan secara hati-hati. Ada beberapa catatan untuk dipertimbangkan dalam hal ini:
1. Ada perbedaan penting antara agama, misalnya dalam doktrin, sejarah, perwakilan, dan pengikutnya
2. Ada konteks sosial dan politik yang berbeda, serta perbedaan budaya dan teori
3. Berbagai konsekuensi yang dihasilkan dari berbagai cara untuk mendekatinya
4. Perbedaan dalam peran kehendak manusia dalam mewujudkannya.

Literatur teoritis sekularisasi dapat dikategorikan dalam berbagai cara, berkenaan dengan pertanyaan:
1. Apa esensi dan sifat sekularisasi?
2. Menanyakan keberadaannya (sekulerisasi) dalam realitas.
3. Untuk menanyakan (sekulerisasi) bagaimana hal itu terjadi dalam realitas.
4. Untuk bertanya (sekulerisasi) mengapa itu terjadi dan hubungannya dengan fenomena lain.
5. Menanyakan masa depannya (sekulerisasi) dan menemukan cara perkembangannya.

Berkenaan dengan konteks kejadiannya memiliki tiga dimensi:
Sekularisasi individu, masyarakat dan agama

Berkenaan dengan porosnya:
Berfokus pada penciptaan “faktor”,
Berfokus pada “prosedur” nya,
Berfokus pada “konsekuensinya”.

Konsep agama apa yang akan dihasilkan sekularisasi?
Perbedaan antara “pendekatan terhadap agama” dan “pendekatan agama”, “orang yang mempersepsikan” dan “orang yang mempraktikkan” agama harus diperhatikan.
1. Untuk memanusiakan agama
2. Ketidakmampuan dalam menyampaikan pesan agama
3. Untuk melihat agama sebagai konstruksi
4. Untuk membuat agama
5. Untuk mencampur aduk dan salah paham ranah agama dan harapan agama
6. Untuk ragu tentang kebijakan dan prosedur agama
7. Reduksionisme
8. Fungsionalisme
9. Untuk membuat agama pasif dan acuh tak acuh terhadap urusan dunia modern.


Comments are closed.