:::: MENU ::::
MENUMENU

Pembagian Akal

Oleh :  Muhammad Ma'ruf

Pembagian Akal

Tulisan berikut akan mengidentifikasi arti akal/intelek dengan berbagai standar pembagian dengan menggunakan pendekatan deskriptif untuk memperoleh maksud yang akurat. Pembagian ini bermanfaat dalam mendeteksi transformasi berbagai pengertian status akal dari filsafat hingga hadir dalam dimensi sosial dan agama.

Intelek/akal digunakan dalam berbagai pengertian berdasarkan standar tertentu, dapat dibagi menjadi beberapa bagian.
a) Pembagian ontologis.
Intelek terkadang digunakan dalam pengertian fakultas mental manusia. dan kadang-kadang dalam arti “zat”, sebuah subtansi yang independen. Dalam pengertian pertama, akal digunakan baik dalam arti fakultas persepsi atau dalam arti fakultas praktis.

Jika digunakan dalam pengertian kemampuan mental manusia disebut akal teoretis sedangkan jika digunakan dalam pengertian fakultas praktis itu disebut akal praktis. Namun jika digunakan dalam pengertian substansi yang independen disebut “substansi intelektual immaterial”. Beberapa pandangan mengatakan bahwa intelek digunakan dalam tiga pengertian secara homonim, sedangkan yang lain mencari landasan bersama (Mulla Sadra, 1981, p. 368).

b) Tahapan akal secara ontologis
Berdasarkan status ontologisnya, intelek/akal dapat dibagi menjadi potensial, habitual/kebiasaan, aktual, adeptus, aktif, longitudinal dan latitudinal. Intelek potensial adalah kemampuan kognitif yang hanya ditemukan pada bayi. Akal habitual terdiri dari kesadaran akan kebenaran yang terbukti dengan sendirinya. Tahap utama persepsi intelektual sempurna ketika setelah kita mencapai tahap akal habitual. Intelek aktual, terdiri dari kesadaran akan kebenaran dengan bantuan pikiran dan argumen. Akal aktual lebih sempurna dibanding intelek sebelumnya. “Intellectus adeptus” adalah tahap intelek intuitif yang tidak membutuhkan argumen. “Intellectus adeptus” berada dalam kontak eksistensial dengan subtansi intelek (Farabi, 1995, hal. 116).

Keempat tahapan diatas berbeda satu sama lain dari sudut pandang status eksistensialnya, dan merupakan tahap eksistensial jiwa manusia. Masing-masing masuk kedalam “wujud” sebagai hasil dari perkembangan yang terjadi dalam jiwa manusia. Namun, intelek memiliki status lain yang lebih unggul dari semua tahapan yang disebutkan. “Menjadi wujud” (being) sempurna.

Akal ini membantu jiwa manusia mengatasi ketidaksempurnaan. Tahap wujud ini yang mengatur jiwa dan materi yang disebut “intelek aktif”. Kaum iluminasionis percaya bahwa tahap keberadaan ini didasari oleh banyak intelek. Intelek ini jika dipahami secara latitudinal disebut intelek latitudinal sedangkan jika dipahami secara longitudinal disebut intelek longitudinal. Namun, akal yang paling unggul disebut “akal pertama”.

c) Pembagian berdasarkan akal kognitif
Berdasarkan subjek kognisi, intelek (akal), sebagai fakultas kognitif manusia dibagi menjadi: Pembagian pertama adalah pembagian teoritis dan praktis. Akal teoretis digunakan di sini berbeda dari yang digunakan sebelumnya. Pembagian teoritis adalah bagian dari kemampuan kognitif manusia yang fokus pada hal tertentu dari aspek eksistensial yang tidak memiliki hubungan dengan urusan praktis.

Akal praktis disisi lain, adalah bagian dari kemampuan fakultas kognitif manusia yang fokus pada eksistensial tertentu yang muncul sebagai hasil dari intervensi akal praktis yang datang menuju wujud hasil intervensi dari akal praktis dalam pengertian sebelumnya. Dalam pengertian selanjutnya, akal teoretis dan praktis dipahami sesuai subjeknya. Pembagian ini termasuk, akal metafisik, akal matematika, akal fisika, akal moral dan politik.

Istilah-istilah ini muncul sebagai hasil dari fokus pada subjek yang dipelajari oleh akal teoritis . Akal metafisik di bahas dalam pengertian “being qua being” atau wujud sebagaimana adanya.

Akal matematika membahas jumlah (kuantitas), dimana akal fisika berkaitan dengan materi dan wujud temporal. Akal moral dan politik dibahas sesuai dengan subjek masalahnya masing-masing.

d) Pembagian berdasarkan “akal manusia”/ human intellect (reason)
Sebagai bagian dari fakultas kognitif manusia, akal teoretis secara metodologis terbagi menjadi akal intuitif atau akal berdasarkan “kehadiran”, akal konseptual atau akal perolehan dibagi menjadi akal abstrak dan abstrak-empiris. Pembagian akal menjadi demonstratif, dialektik, retorik dan falasinya adalah pembagian berbasis metodologi lainnya. Hal ini karena akal diientifikasi kedalam berbagai metodologi dan menerapkanya ke dalam demonstrasi, dialektik, puisi, retorika dan falasi. Pembagian ini sesuai dengan teknik-teknik dengan metodologi masing-masing.

e) Pembagian akal berdasarkan aplikasi
Menurut fungsinya, intelek (akal) dibagi menjadi instrumental, komunikatif dan kritis. Akal instrumental membantu manusia mendominasi alam dan mengeksploitasinya berdasarkan investigasi. Akal reflektif atau komunikasi mempersepsi makna, nilai dan tindakan yang dilakukan oleh manusia. Akal kritis mengkritik nilai-nilai dan perilaku yang terkait dengan kehidupan manusia. Makna ini mungkin tumpang tindih dengan makna intelek sebelumnya. Sebagai contoh, akal instrumental biasanya memiliki bentuk empiris dan alami sedangkan preskriptif atau akal kritis memiliki bentuk abstrak terutama berkaitan dengan akal praktis.

Lima pengelompokan dialektik, puitik, retorik, dan falasi berbasis aplikasi. Kemunculanya ‘inheren’ terhadap aplikasi dan di tentukan kebanyakan berbasis aplikasi (penerapan). Demonstrasi mencari pemahaman kebenaran, sedang dialektik untuk mengalahkan lawan. Retorik digunakan untuk meyakinkan orang lain, puitik sebagai alat untuk memprovokasi dan memotivasi orang lain. Falasi adalah tehnik membantu memahami kesalahan dan fokus pada hal tesebut. Menurut Ibnu Sina, jika seseorang meginginkan kebenaran maka memerlukan demonstrasi dan mengetahui falasi.

f) Pembagian akal berdasarkan origin
Dilihat dari sisi origin dan penyebabnya secara ontologis, intelek dibagi menjadi sekuler, religius dan subjektif. Akal sekuler adalah seperangat akal yang origin dan dilihat dari sisi realitas historis dan subjektif. Akal dalam pengertian ini adalah produk kehidupan manusia di dunia. Jika pengetahuan intelek dianggap sebagai produk komunikasi dan aktifitas sekuler manusia, kedua istilah komunikasi dan akal publik akan overlaping (tumpang tindih) dengan akal sekuler.

Pendekatan pragmatik memberi intepretasi identitas sekuler, dimana pendekatan oposisinya memiliki identitas religius, supernatural dan metafisik. Berdasarkan pendekatan yang terakhir, meskipun akal hadir di dalam sejarah dan budaya melalui manifestasi, hal ini memiliki independensi, stabil dan suci. Akal Hegel tidak memiliki pengertian akal yang memiliki fenomena publik dan komunikatif, dia memberi pengertian identitas “subjektif”, untuk memperluas dan mengorganisasi segala sesuatu melalui perkembangan dan akal ini sebagai puncak dari segala sesuatu (Hegel, 1977). Akal subjektif dalam pengertian ini berdasarkan pembagian “origin”. Terminologi ini akan kita gunakan dalam dimensi epistemologi.

g. Pembagian berdasarkan domain
Berdasarkan pembagian akal yang hadir dalam budaya dan sosial, akal dibagi menjadi Barat, Arab, publik dan Yunani.

Berdasarkan beberapa terminologi, “akal publik” adalah bagian dari pengetahuan intelek yang hadir dalam domain publik. Akal dalam pengertian ini overlape (tumpang tindih) dengan prinsip-prinsip logika sehari-hari yang digunakan oleh manusia. Berdasarkan terminologi lain, akal publik terdiri dari setiap pengetahuan yang muncul dalam ruang publik. Akal Arab adalah seperangkat akal yang diterima oleh masyrakat Arab, akal Yunani adalah pengetahuan akal yang hanya ada dalam budaya Yunani.

Pembagian ini juga akan tumpang tindih dengan pembagian sebelumnya, untuk beberapa pembagian lebih aktif dan ektensif hadir dalam berbagai budaya. Max Weber menggunakan akal instrumental untuk memberi pengertian akal modern.

Berdasakan grup dan tren penggunaanya, akal dibagi menjadi, filsafat, teologis, hukum, dan mistis. Pembagian ini juga tumpang tindih dengan pembagian sebelumnya. Karena para filsuf biasanya menggunakan akal demonstratif, sedang kaum kalam biasanya menggunakan akal dialektik. Akal mistis digunakan dalam pengertian akal suci, tidak sekuler dan subjektif.

h. Pembagian akal berdasarkan nilai epistemologi
Berdasarkan nilai epistemologi, intelek (akal) dibagi menjadi, mencerahkan, subjektif, deduktif, Asyariah, Mu’tazilah, dan spekulatif. Pencerahan akal modern memperluas pengetahuan akal/intelek kedalam seluruh aspek eksistensi. Tidak ada yang tidak bisa kita ketahui melalui akal. Akal Decartian dan Hegelian memiliki karakter semacam ini. Akal empiris juga terkadang memiliki klaim yang sama. Beberapaa atribusi disematkan pada Mu’tazilah atau akal Ibn Rusd. Akal subjektif, adalah akal yang mencerahkan sejauh mencukupi klaim dirinya sendiri, yakni sumber pengetahuan puncak dan tidak memiliki pengertian tidak valid.

Menggunakanya dalam pengerian ini, akal subjektif akan fokus pada aspek epistemologi. Bagi yang tidak percaya dengan “pencerahan akal modern”, pengertian akal dan konsep pengetahuan berbeda dengan bagaimana “pengetahuan intelek” berinteraksi dengan “pengetahuan yang tersingkap”. Dalam bahasa persia, mereka menggunakan ‘khodbunyad’ artinya subjektif dan tertanam sejak dini (self-founded reason). “Khodbunyad” digunakan dalam pengertian yang berbeda dengan pengertian sifat ‘religious’(lihat, Muhammad Reza Hakimi, 1380 AH).

Pengertian ini digunakan almarhum Sayyid Ahmad Fardid yang equvalen dengan ‘subjektif’. Jika akal (intellect khodbunyad) equivalen dengan ‘akal subjektif’ maka akan memiliki dimensi epistemologis. Akal subjektif adalah seperangkat akal yang berhubungan dengan penjelasan Kantian dan neo-Kantian tentang manusia. Menurut terminologi ini, subjek tidak akan dapat mencapai cahaya kebenaran melampaui eksistensi. Karena hanya seperangkat apriori yang nampak pada realitas di permukaaan. Atau hanya bersifat human dan merupakan lebih pada konstruksi historis yang menciptakan kebenaran dibanding pemahaman. Berdasarkan pendekatan ini, kebenaran adalah bersifat menyejarah dan konstuksi konsep manusia yang bersifat relatif. Akal Asya’riah adalah salah satu dalam pengertian ini, ‘esensial religus’. “Akal deduktif” adalah salah satu yang membantu dalam mendeduksi sesuatu dari tradisi. Dalam pengertian lain, akal deduktif hanya alat yang bermanfaat untuk mengetahui sesuatu, atau pemahaman intelek/akal yang independen. Sedang “Akal spekulatif” adalah ketika seseorang secara epistemik mengasilkan keraguan.

Muhammad Ma’ruf-Peneliti Pemikiran Barat dan Islam

Hubungi saya


Comments are closed.