:::: MENU ::::

Absurditas Perang dan Ilusi Kemerdekaan Kurdi

Absurditas Perang dan Ilusi Kemerdekaan Kurdi

Eforia berita hasil referendum kemerdekaan Kurdi terus menghiasi media lokal dan Internasional. Komisi pemilihan mengatakan 92% dari 3,3 juta orang Kurdi dan non-Kurdi yang memberikan suara mereka mendukung pemisahan diri.

Arah berita begitu pelan, halus terancang dan rapi menyuarakan hati nurani suku Kurdi. Godaan syaraf kemanusiaan rasa keadilan mulai menghipnotis. Kebimbangan emosi publik dipermainkan. Antara menjaga integritas teritori Irak dan kelayakan suku Kurdi mendapatkan hak kemerdekaan, antara keterancaman wilayah Irak, Suriah, Iran, dan Turki berikut rembetan tuntutan kemerdekaan suku Kurdi di wilayah empat negara sekaligus.
Akankah Kurdi menjadi sebuah negara merdeka, rakyatnya makmur dan bebas dari penindasan baik kolonial maupun rezim lokal. Jawaban prediksi penulis adalah akan terjadi absurditas perang dan kemerdekaan Ilusi.

Kenapa demikian, karena referendum Kurdi hanyalah implikasi runtutan sistematis dimulai dari skenario Arab Spring (pergantian rezim pro Barat), kondisi pasukan ISIS sebagai relawan Israel di wilayah Irak dan Suriah yang mulai habis, kejutan absurditas blokade Arab Saudi dkk terhadap Qatar, dan yang terbaru referendum Kurdi dapat dibaca sebagai fase pintu perang selanjutnya.

Referendum bagi kemerdekaan suku Kurdi disaat ujung perang melawan ISIS hampir tuntas, artinya estafet peran ISIS diganti oleh suku Kurdi. Referendum Kurdi artinya undangan perang terbuka, suku Kurdi siap tempur menungggu diserang empat negara sekaligus. Fenomena referendum Kurdi menjadi umpan maut bagi perang yang absurd.

Sementara, bagi Trumpt dan Netanyahu referendum Kurdi sesuai dengan plot skenario “New Midle east” yang dipersiapkan dengan baik dimulai dari invasi AS ke Irak 2003. Memecah wilayah di sekitar Israel menjadi negara-negara kecil berdasarkan etnis, mazhab dan agama. Setelah sebelumnya ISIS sukses menjalankan misi prakondisi penghancuran image Islam dan perusakan infrastruktur Suriah dan Irak.

Tulisan berikut akan mengupas sisi absurditas Perang dan Ilusi Kemerdekaan.
Absurditas Perang
Sudah terang akan terjadi absurditas perang jika suku Kurdi demi mempunyai negara sendiri hanya mengandalkan hasil referendum meski diniatkan sebagai alat tekan dan bergaining terhadap pemerintahan Irak. Sudah pasti absurd jika elit Kurdi hanya mengandalkan dukungan militer dan politik Israel dan AS tanpa memperhatikan suara negara yang mengelilinginya dan dunia internasional.

Jika hanya mengandalkan dua elemen tersebut artinya jutaan rakyat suku Kurdi berikut geografinya akan berpotensi diekploitasi habis-habisan oleh Israel dan AS. Jumlah 30 juta rakyat Kurdi yang tersebar di Irak, Suriah, Turki dan Iran akan berpotensi menjadi relawan gratis bagi kepentingan Israel dan AS. Kecerobahan pemerintahan AS mengirimkan pasukanya ke Viatnam yang mengakibatkan korban masif militer AS dan hasil perang yang memalukan AS tentu tidak akan diulang. Israel dan AS tidak perlu membangun koalisi Internasional untuk menginvasi empat negara tersebut.

AS dan Israel akan menjaga dan melindungi kepentingan nasionalnya, yakni menekan jumlah korban tentara AS dan Israel. Dengan kepastian tinggi, penguatan persenjataan militer Kurdi oleh AS dan kepahlawanan rakyat Kurdi setelah berhasil mengalahkan ISIS menjadi modal moral untuk berani menghadapi militer reguler di empat negara sekaligus (Irak, Iran, Turki dan Suriah). Tentu dengan upgrade persenjataan militer yang lebih mematikan oleh AS. Potensi suku Kurdi lebih ampuh untuk diekploitasi dibandingkan dengan ISIS, karena suku Kurdi lebih mengakar. Perang melawan suku Kurdi akan lebih lama dan melelahkan dibandingkan dengan perang melawan ISIS.

Setelah AS dan Israel sukses mengekploitasi masa pakai Turki menjadi panitia masuknya ISIS untuk mengahancurkan Suriah, maka pangkalan AS (NATO) di Turki tidak menutup kemungkinan akan dipindah ke Kirkuk yang kaya minyak. Trumpt akan berpikir dua hal, penguatan pangkalan militer baru dan keuntungan minyak. Sambil perang tidak lupa menyedot minyak Kirkuk. Kekayaan minyak Kirkuk menjadi modal perang lebih efisien dibanding di masa ISIS yang harus menjual lewat Turki.

Secara militer, minyak gratis di Kirkuk akan mengongkosi pesawat, kendaraan milter dan tank. Dengan memakai wilayah Kurdi yang berbatasan di empat negara sekaligus, maka rudal-rudal bekas yang murah masa perang dunia 2 akan mudah menjangkau Tehran, Bagdad, Angkara dan Damaskus.

Inilah absurditas perang yang akan terjadi, korbanya tidak hanya 30 juta warga Kurdi, tapi juga suku Turki, Persia, Arab, Sunni, Syiah, Kristen dan Yazidi. Dunia akan segera menyaksikan, teater absurd ala Hollywood-bagaimana mungkin kekuatan anti ISIS yang semula satu fron, karena manisnya referendum berubah 180 derajat antar kawan menjadi saling bantai.

Ilusi Kemerdekaan
Akankah referendum Kurdi akan berbuah menjadi satu negara berbasis etnis layaknya sebuah negara merdeka, makmur dan damai. Jawabanya mustahil, jikapun terjadi, maka wilayah Kurdi akan menjadi barak militer AS persis di Afganistan. “Negara gagal Kurdi” tidak akan bisa melakukan kegiatan ekpor dan impor karena seluruh akses darat dan udara di tutup di empat wilayah perbatasan sekaligus. “Negara gagal Kurdi” juga tidak mempunyai akses laut untuk berhubungan dengan dunia luar. Negara Kurdi agar (self sufficient) butuh ekpor minyak keluar, atau membangun pipa minyak membentang melalui Syria dan Turki. Hingga sekarang saja atas permintaan Bagdad; Yordania, Mesir, UEA, Turki, Iran sudah mengentikan penerbangan ke Kurdistan.

Olehkarenanya momentum referendum kemerdekaan Kurdi-di saat riwayat ISIS hampir tamat adalah murni kecanggihan dan keberhasilan Israel memanipulasi rakyat Kurdi. Referendum adalah buah dari investasi bisnis dan politik militer Israel yang sudah terjalin lama. Jika ISIS di ekploitasi dengan janji “premen khilafah”, maka suku Kurdi di ekploitasi dengan ilusi “premen negara merdeka”. Dengan demikian, sihir referendum Kurdi adalah tawaran permainan rolet ala Israel dengan tingkat bunuh diri 100% bagi suku Kurdi. Israel butuh patner dan legitimasi negara yang didirikan berdasarkan etnis seperti halnya Israel Jewish State.
Referendum Mengalahkan Rasionalitas
Sebenarnya, sedikit saja elit partai suku Kurdi berpikir rasional- tentu akan mudah lepas dari perangkap Israel. Kenapa suku Kurdi terlalu mudah terbuai dengan cinta palsu Israel karena mau mendukung kemerdekaanya. Bukankah puluhan tahun Israel masih menyiksa rakyat Palestina dan tidak mendukung kemerdekaan rakyat Palestina. Bukankah AS dan Israel masih menjajah Palestina, dan tiba-tiba sekarang begitu baik mendukung Kurdi untuk merdeka?. Sebuah fenomena absurd dan hipokrit.
Meski lewat pernyataan resmi, Deplu AS mendukung dialog Kurdi dengan pemerintah Irak, tapi sekaligus menyatakan hasil referendum Kurdi tidak akan mempengaruhi hubungan baik AS dengan suku Kurdi. Ingat, politik luar negri AS selalu bermuka dua, berperan seolah menjadi wasit (penengah) sekaligus mendukung militer Kurdi terang-terangan.

Walaupun dukungan Israel bagi kemerdekaan Kurdi begitu gamblang, tapi sangat disayangkan, banyak para penulis dan pengamat timur tengah terus saja mengeksploitasi sentimen kerinduan suku Kurdi untuk merdeka. Sementara mereka tidak menulis secara faktual dan langsung fokus pada sikap Israel sebagai bahan analisa.

Prediksi penulis-suku Kurdi sudah pasti tidak akan mendapatkan kemerdekaan sebagai negara normal, tapi kemungkinan besar malah akan menjadi daerah jajahan baru sebagai tempat pangkalan militer AS dan Israel untuk bermimpi menyerang Iran melalui tangan suku Kurdi. (Oleh, M. Ma’ruf)

 


So, what do you think ?