:::: MENU ::::

Nurcholis Madjid, Membaca Peta Sang Pembaharu

Judul video lengkapnya Nurcholis Madjid : Jejak Sang Pembaharu. Sebuah judul dalam program acara Melawan Lupa di Metro TV yang tayang tanggal 4 Juli 2017 pukul 22:34 WIB. Karena tayang di TV, format acara ini cukup ringkas dan padat memotret ketokohan Cak Nur.

Profilnya mencakup dimensi pemikiran sekuler, kesediaan pencalonan presiden, ditutup dengan sisi kesufian modern Cak Nur. Tak lupa murid-murid dan sahabat Cak Nur seperti Yudi Latief, Budhi Munawar Rahman, Dawam Raharjo, Azyumardi Azra, Hidayah Nurwahid dan sang istri Ommi memberikan testimoni tentang ketokohan Cak Nur.

Maksud dari redaksi Metro memasukkan videografi ini ke dalam acara “Melawan Lupa”, mungkin ingin mengingatkan bahwa Cak Nur mulai dilupakan oleh publik Indonesia. Sedang penyematan Cak Nur sang pembaharu bisa saja benar karena memang berbeda pandangan secara tajam dengan tokoh-tokoh dan pemikiran yang mapan sebelumnya seperti Natsir, Buya Hamka, dan Rasyidi. Sebagaimana Budhi Munawar Rahman menyebutnya “Cak Nur Shock” melihat respon para pendahulunya.

Pembaharu

Sebagaimana para murid dan sahabat Cak Nur mengidentifikasi pemikiranya dengan pemikiran Cak Nur- hampir tidak ada komentar negatif, minimal tergambar dalam testimoni dalam video tersebut. Tentu saja ini wajar karena memang tokoh-tokoh tersebut segaris dan seperjuangan. Akan tetapi jika video tersebut dibaca oleh pihak di luar murid-murid Cak Nur, justru kata kunci judul Jejak Sang Pembaharu akan menemukan penyegaran kembali- karena tokoh Cak Nur saya yakin tidak sekedar romantika, akan tetapi kontektualisasi dari pemikiran Cak Nur perlu di gali, terus dalam posisi urgen.

Penulis dalam pengertian ini tidak akan memberi ekplanasi rigit, karena ini hanya sekedar respon kilat dari penggalan kesan dari sebuah video. Jika diletakkan dalam kontek intelektul dunia muslim, sebenarnya kita bisa bertanya pada Cak Nur, tokoh ini tepatnya sedang berbicara tentang apa, meneruskan pemikiran siapa, dan sampai dimana batas pemahaman Cak Nur tentang Islam, tentang problem dunia Islam dan sampai batas mana Islam tidak bisa dibicarakan.

Jika kita runut, Cak Nur berbicara tentang pemikiran Islam kontemporer sekaligus terlibat dalam konteks keindonesiaan. Poblem terbesarnya adalah bagaimana mengharmoniskan ide modern dengan ajaran Islam di bumi Pancasila. Kritik terbesarnya fokus pada dunia internal Islam sendiri yakni kaum tekstualis. Dalam bahasa Jabiri kaum Bayani, yaitu orang Islam yang beragumentasi dari teks, mempunyai semangat tinggi kembali ke al-quran dan Hadis. Inilah kenapa Yudhi Latief mengatakan dalam video tersebut Cak Nur berbicara sangat jauh sekali dan tantangan tersebut terjadi di era sekarang. Mungkin juga setelah Yudhi Latif menjadi Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), jumlah pendemo yang fantastis Habib Rizieq sebagai bagian dari riak-riak demokrasi menjadi bahan refleksi yang mendalam bagi tim 9 nya.

Jika kita letakkan ketokohan Cak Nur dalam bingkai dunia Islam, sebenarnya banyak tokoh yang mendahuluinya yang senafas. Seperti al-Tahtawi, an Egyptian renaissance (Nahda) (1801–1873) yang menjadi inspirator tiga tokoh; Jamaludin al-Afghani (1838 – 1897), Rashid Ridho (1865-1935) dan Muhammad Abduh (1849-1905) dalam konteks pencarian harmonisasi dunia modern (pencerahan Perancis) dan kemajuan sains Islam. Atau dari sisi metode kritis dari Aljabiri (1935-2010), Muhammad Arqoun (1928-2010), dan Nasr Abu Zayd (1943-210).

Oleh karena itu fokus semangat Cak Nur adalah sekulerisasi pemikiran, memprofankan yang seharusnya profan dari yang sakral atau mensakralkan yang semestinya sakral dari yang profan. Karena negara adalah profran maka Islam tidak boleh menjadi ideologi untuk mensakralkan (baca: membuat negara Islam). Sedangkan yang sakral adalah subtansi Islam yakni Islam sebagai etika. Islam tidak boleh menjadi hukum tertinggi negara (positif). Sekali lagi Islam boleh sejauh menjadi etika publik di bawah hukum positif negara Pancasila. Demikian pernyataan Budhi Munawar Rahman yang penulis coba padatkan.

Lalu seberapa dalam Cak Nur memahami Islam, tentu sangat luas bagi para pengikutnya. Bisa jadi menurut pandangan orang di luar lingkaran Cak Nur seharusnya pemahaman Cak Nur bisa lebih luas lagi spektrumnya. Akan tetapi yang jelas batas Islam yang dibicarkan Cak Nur, Islam di Indonesia tidak boleh melanggar garis merah yakni segera menghentikan wacana Islam sebagai negara. Begitu penekanan sahabat dekat Cak Nur, Dawam Raharjo.

Kemudian tentang aspek dalam Cak Nur seperti ketulusan, kesederhanaan, pengendalian diri tentu tidak bisa di ragukan lagi sebagai aspek kesufian modern Cak Nur. Seperti pengakuan istri tercinta ibu Ommi dan Budhi Munawar Rahman, “Selama bersamanya beliau tidak pernah marah” kata Budhi.

Catatan Penulis

Menurut penulis, ada empat komponen yang bisa menjadi inspirasi dalam membangun relasi Islam dan dunia modern. Pertama, Islam sebagai agama budaya dan peradaban pada masa keemasan Islam klasik; Ibnu Sina, Farabi, Khawarizmi, Nasirudin Thusi, Jabiri, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Inspirasi ini biasanya diambil spirit keilmuan dan keberhasilan harmonisasi Islam dan sains dalam konteks kontemporer disebut sains integratif. Puncak keberhasilanya adalah kemajuan sains dalam dunia Islam yang mendominasi waktu itu manakala Barat masih terbelakang.

Inspirasi pada era ini tidak terbebani dengan keberhasilan proyek Renaisans Perancis, sehingga tidak ada celah kemajuan Islam diukur dari ideologi of progress (welfare state). Hanya saja, kelemahan dari era ini-tidak ada yang bisa dijadikan referensi dinamika pergolakan dalam membangun relasi Islam dan negara (kerajaan).

Kedua, era paska negara-negara muslim dijadikan kolonisasi negara Eropa dan Amerika. Dimulai dari era melemahnya militer Ustmani bersamaan dengan upaya mengadopsi keberhasilan pencerahan terutama Perancis dan Inggris dengan ajaran Islam. Tantanganya adalah bagaimana mengadopsi nasionalisme dan konsep welfare state dipadukan dengan pelaksanaan hukum Islam dalam sebuah negara. Upaya ini terlihat di Mesir, Maroko, Suriah dan Turki era awal abad 17, 18, 19. Inilah dalam perkembangan mutakhir dikenal dengan Islam rasional dan moderat yang dalam perkembanganya, rekonsiliasi pelaksanaan hukum Islam tidak bisa lepas otoritasnya dibawah pemimpin sekuler.

Jika kita perhatikan, posisi intelektual Cak Nur semangat sekulernya masuk diantara dinamika pemikiran Muhammad Abduh, Aljabiri, Muhammad Arqoun, dan Nasr Abu Zayd. Adopsi rekonsiliasi modernnya dari Tahtawi, Jamaludin al-Afghani, Rashid Ridho dan Muhammad Abduh.

Kelemahan dari era ini dalam kontek Indonesia adalah pada saat mendorong penerapan tuntutan keadilan sosial dalam Islam dengan mengendorse Ideologi Pancasila, bebanya seolah meminta pertanggungjawaban ideologi Pancasila untuk memenuhi tuntutan ideal keadilan sosial Islam. Mesin sistem ideologi Pancasila menanggung beban terlalu berat untuk membawa gerbong tuntutan ideal Islam.

Di samping itu nasib Islam sebagai agama peradaban yang ingin dicita-citakan Cak Nur terjadi di Indonesia akan menghadapi kendala karena Islam dibatasi hanya boleh dipraktekan secara etika, tidak boleh diterapkan dalam konteks hukum tertinggi (mendominasi hukum sekuler). Sisi praktisnya, otomatis budget APBN dari negara untuk kemajuan sains dan peradaban Islam tidak bisa menjadi prioritas. Lagi-lagi ini pilihan, karena Islam dibatasi di wilayah etika, kalaupun menjadi kekuatan politik, sejauh mewarnai, bukan sebagai kekuatan determinan. Dalam perkembangan terakhir hukum buatan manusia dan Tuhan bisa digabungkam dalam kontek demokrasi religius.

Sedang era selanjutnya, ketiga, adopsi kejayaan Turki Usmani di tingkat modern. Seperti kita ketahui negara Turki sendiri di penghujung era milenium menganut negara sekuler. Islam mewarnai dan sejauh bisa mengikuti aturan main sekuler. Pada kondisi terkini, kelebihanya partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) berhasil menjadi penguasa Turki. Akan tetapi partai ini memiliki ambisi ingin menerapkan secara total ideologi Islam.

Tantangannya, seringkali terjadi pertentangan hukum positif negara dan harmonisasi kebijakan praktis yang Islamis. Inspirasi ini dalam konteks Indonesia diadopsi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kelemahan dari adopsi era ini, tidak menjadikan rujukan abad keemasan Islam, yaitu Islam sebagai agama peradaban pada saat yang sama tidak mengadopsi kebebasan berpikir (semangat rasionalitas).

Kekuasaan harus direbut, tapi setelah berkuasa seringkali banyak kehilangan visi kebijakan. Sehingga terjadi blunder dalam kebijakan politik praktis. Sebagai contoh, kebijakan ini terbaca saat AKP mendukung pergantian rezim Assad dengan cara kekerasan yang tidak disetujui pihak oposisi dan suku Kurdi di Turki. Simbol kejayaan Usmani, heroisisme Salahudin Alayubi, Fatin sang penakluk menjadi semangat penggerak yang agresif dalam mengaktualisasikan Islam. Pengerahan pasukan Turki ke wilayah utara Suriah baru-baru ini tanpa mengindahkan kedaulatan Suriah menjadi contoh agresifitas minus rasionalitas gaya Usmaniah.

Keempat, adopsi era Arab Saudi modern oleh kaum fundamentalisme teks agama. Islam dibatasi hanya dari murni teks al-Quran dan Hadis, sehingga Islam sebagai budaya dan peradaban tidak diakomodasi bahkan peradaban menjadi berhala yang harus dihancurkan. Sebagai contoh penghancuran situs-situs bersejarah di Suriah dan Irak yang seolah menghancurkan berhala (syirik), padahal sebenarnya telah membunuh Islam sebagai agama peradaban. Kelompok ini menghadapi kendala paling sulit, karena anti zaman keemasan Islam abad Pertengahan yang kental dengan filsafat, anti kebebasan berpikir (ijtihad), anti modernitas dan anti perjuangan politik secara demokratis.

Jika kita baca, alur posisi pembaharuan Islam Cak Nur ada pada kompenen kedua dan mendukung komponen pertama. Kelemahanya adalah karena membatasi subtansi Islam sebagai etika, pada saat ingin mendorong kebijakan ekonomi politik Pancasila, Islam banyak kehilangan kekuatan politik dan harus berekonsiliasi, bernegosiasi dalam korporasi-korporasi sekuler di belakang layar yang mengontrol kebijakan negara. Oleh media disebut sebagai Islam moderat. Islam yang toleran dalam agama, tapi bobot Islam tidak mempunyai kekuatan politik untuk mengimbangi arus besar politik sekuler (baca: pemodal).

Wallahualam, Cak Nur bagi saya teladan dalam bidang akhlak, etos intelektual muslim yang berbobot dan mencita-citakan lahirnya kembali keemasan Islam abad pertengahan. Adapun maksud pembaharuan (baca: sekulerisme) Cak Nur bagi saya masih menyimpan tanda tanya besar, karena karakter kolonialisme baik dalam wacana akademis dan kolonialisasi fisik jarang dibahas oleh Cak Nur, padahal ini penting untuk melihat Islam sebagai Islam (apa adanya) secara genuine era kontemporer, sehingga sekulerisme tidak menjadi pilihan wajib bagi Muslim. Minimalnya tidak mengindentikan modernisme dengan sekulerisme. Edward Said dan Chomsky yang berbeda agama saja bisa satu nafas dalam melihat kolonialisme dan modernisme, apalagi sesama muslim tentu banyak pilihan. (m.ma’ruf)

Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan Parstoday Indonesia


So, what do you think ?